<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yoyoindrajaya&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://yoyoindrajaya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Mar 2011 01:16:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yoyoindrajaya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yoyoindrajaya&#039;s Blog</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yoyoindrajaya.wordpress.com/osd.xml" title="Yoyoindrajaya&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sharing : Kenapa dokter luar pelit akan obat?</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2011/03/24/sharing-kenapa-dokter-luar-pelit-akan-obat/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2011/03/24/sharing-kenapa-dokter-luar-pelit-akan-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 01:16:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[health]]></category>
		<category><![CDATA[motivation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Sharing, semoga berguna buat yang membaca&#8230; (dikutip dari buku &#8220;Smart Patient&#8221; karya dr. Agnes Tri Harjaningrum) ** Dimana Salahnya?** Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=83&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sharing, semoga berguna buat yang membaca&#8230;</p>
<p>(dikutip dari buku &#8220;Smart Patient&#8221; karya dr. Agnes Tri Harjaningrum)</p>
<p>** Dimana Salahnya?**</p>
<p>Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya<br />
kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi.<br />
Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini<br />
tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya<br />
muntah, hatiku tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas<br />
habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan<br />
santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.</p>
<p>Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik<br />
terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku<br />
membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.</p>
<p>&#8220;Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a<br />
viral infection.&#8221; kata dokter tua itu.</p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p>&#8220;Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?&#8221;<br />
batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan<br />
diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak<br />
sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda<br />
memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.</p>
<p>&#8220;Obat penurun panas Dok?&#8221; tanyaku lagi.</p>
<p>&#8220;Actually that is not necessary if the fever below 40 C.&#8221;</p>
<p>Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa<br />
memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.</p>
<p>Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah<br />
aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu<br />
memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit<br />
obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia,<br />
termasuk obat penurun panas.</p>
<p>Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi<br />
muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter<br />
tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan<br />
dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.</p>
<p>&#8220;Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,&#8221; kataku.</p>
<p>Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. &#8220;Apakah dia sudah minum suatu obat?&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk. &#8220;Ibuprofen syrup Dok,&#8221; jawabku.</p>
<p>Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah<br />
ngomel-ngomel,&#8221;Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia<br />
muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk<br />
anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak<br />
lebih baik beri paracetamol saja.&#8221;</p>
<p>Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku<br />
betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas<br />
kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia<br />
obat itu bertebaran! Batinku meradang.</p>
<p>Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku<br />
langsung menjadi korban kekesalanku.&#8221;Lha wong di Indonesia, dosenku<br />
aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37<br />
keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit<br />
panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih<br />
koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang<br />
ibuprofen nggak baik buat anak!&#8221; Seperti rentetan peluru, kicauanku<br />
bertubi-tubi keluar dari mulutku.</p>
<p>&#8220;Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol<br />
doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang<br />
keterlaluan Yah dokter Belanda itu!&#8221;</p>
<p>Suamiku menimpali, &#8220;Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak<br />
bilang ke dokternya?&#8221;</p>
<p>Aku menarik napas panjang. &#8220;Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si<br />
dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?&#8221;</p>
<p>Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter<br />
dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan<br />
menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan<br />
belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis<br />
seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu.<br />
Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di<br />
Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari<br />
berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya<br />
pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa,<br />
padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali<br />
negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah<br />
yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven<br />
Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari<br />
dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari.<br />
Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior,<br />
akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!</p>
<p>Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku<br />
ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya<br />
bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya<br />
seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit<br />
batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya<br />
batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi<br />
perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan<br />
saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang<br />
seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada<br />
putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler<br />
saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan<br />
lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.</p>
<p>&#8220;Just drink a lot,&#8221; katanya ringan.</p>
<p>Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot<br />
kalau batuk, batinku kesal.</p>
<p>&#8220;Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?&#8221; tanyaku tak puas.</p>
<p>&#8220;This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,&#8221; jawabnya lagi.</p>
<p>Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap<br />
ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih<br />
vitamin keq! omelku dalam hati.</p>
<p>&#8220;Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul<br />
terus-terusan,&#8221; kataku ngeyel.</p>
<p>Dengan santai si dokter pun menjawab,&#8221;Ya udah beli aja obat batuk<br />
Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.&#8221;</p>
<p>Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat,<br />
walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau<br />
ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.</p>
<p>&#8220;Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak<br />
begini.&#8221; Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada<br />
suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim<br />
dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul<br />
adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan<br />
beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi<br />
dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas<br />
kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri.<br />
Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang<br />
umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap<br />
membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari<br />
mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang<br />
tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada<br />
dalam kantong plastik obatku.</p>
<p>Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia<br />
sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir<br />
dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan<br />
karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena<br />
khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.</p>
<p>&#8220;Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.&#8221;</p>
<p>Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya,<br />
dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,&#8221;Nothing to worry. Just a<br />
viral infection.&#8221;</p>
<p>Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh!<br />
Lagilagi aku sebal.</p>
<p>&#8220;Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan<br />
Dok,&#8221; aku ngeyel seperti biasa.</p>
<p>Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. &#8220;Do you know<br />
how many times normally children get sick every year?&#8221;</p>
<p>Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. &#8220;enam kali,&#8221; jawabku asal.</p>
<p>&#8220;Twelve time in a year, researcher said,&#8221; katanya sambil tersenyum<br />
lebar. &#8220;Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak<br />
terlalu berat,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah<br />
seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu.<br />
Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si<br />
dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.</p>
<p>Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku<br />
mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel<br />
milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas<br />
Kedokteran UI. Bunyinya begini: &#8220;Batuk &#8211; pilek beserta demam yang<br />
terjadi sekali-kali dalam 6 &#8211; 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar.<br />
Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi<br />
setiap 2 &#8211; 3 minggu selama bertahun-tahun.&#8221; Wah persis seperti yang<br />
dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering<br />
sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.</p>
<p>&#8220;Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam<br />
penanganannya,&#8221; Lanjut artikel itu. &#8220;Pertama, pengobatan yang<br />
diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk<br />
pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik<br />
tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh<br />
kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan<br />
menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas<br />
si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit<br />
setiap 2 &#8211; 3 minggu dan perlu berobat lagi.</p>
<p>Lingkaran setan ini: sakit –&gt; antibiotik-&gt; imunitas menurun -&gt; sakit<br />
lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun,<br />
selama bertahun-tahun.&#8221;</p>
<p>Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku.<br />
Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan<br />
yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku<br />
dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter</p>
<p>spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak<br />
percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda &#8216;dipaksa&#8217; tak<br />
lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak<br />
sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini,<br />
mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka<br />
sakit.</p>
<p>Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan<br />
Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata<br />
&#8216;pengobatan rasional&#8217;. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan<br />
kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya<br />
ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti<br />
baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit<br />
memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru<br />
sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk,<br />
pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke<br />
dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan<br />
yang sama sekali tidak rasional! Hmm&#8230; kalau begitu, sistem kesehatan<br />
di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu<br />
pengobatan rasional.</p>
<p>Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih<br />
efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk<br />
Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi<br />
karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda<br />
menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di<br />
apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di<br />
kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan<br />
pertama pada anak yang mengalami demam. &#8220;Duh, untung ya Yah aku nggak<br />
bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang<br />
dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,&#8221;<br />
kataku pada suamiku.</p>
<p>Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin<br />
berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau<br />
orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan<br />
dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang<br />
desa itu malah relatif &#8216;terlindungi&#8217; dari paparan obat-obatan yang tak<br />
perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit,<br />
sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu<br />
dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan<br />
media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret<br />
sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat,<br />
biasanya kita malah ngomel-ngomel, &#8216;memaksa&#8217; agar si dokter memberikan<br />
obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang<br />
dokter-dokter &#8216;menjual&#8217; obat tertentu melalui media. Padahal mestinya<br />
dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.</p>
<p>Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang<br />
kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada<br />
pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun<br />
melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar<br />
dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak,<br />
anak malah gampang sakit dan</p>
<p>terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam<br />
seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa<br />
semua itu terjadi?</p>
<p>Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang<br />
sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa.<br />
Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas<br />
kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan<br />
eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri<br />
kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang<br />
memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini<br />
seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa<br />
hitam. Aku tak tahu, sungguh!</p>
<p>Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada<br />
kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku<br />
sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya<br />
&#8216;hanya&#8217; untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan<br />
penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik<br />
saja. Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang<br />
adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak<br />
bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem<br />
kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional<br />
belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada<br />
peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas<br />
meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem<br />
kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit<br />
untuk bersikap rasional.</p>
<p>Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari<br />
ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya.<br />
Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus<br />
memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan<br />
obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini,<br />
mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh<br />
seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun<br />
tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk<br />
merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien &#8216;bergerak&#8217;, masalah<br />
kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak<br />
rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=83&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2011/03/24/sharing-kenapa-dokter-luar-pelit-akan-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mari istirahatkan BB didepan Anak</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/10/06/mari-istirahatkan-bb-didepan-anak/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/10/06/mari-istirahatkan-bb-didepan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Oct 2010 09:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Aku dan adik sayang mama Tapi maaf ma. Mengapa saat adik menangis kehausan, Mama masih asyik BerBBM Mengapa saat aku tidak bisa mengerjakan PR Mama selalu bilang coba dulu pikir sendiri, sambil mata melotot ke BB Mengapa saat aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mama selalu menyuruh mbak untuk membantunya, sambil tangan mama lincah menyentuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=79&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dan adik sayang mama<br />
Tapi maaf ma.</p>
<p>Mengapa saat adik menangis kehausan,<br />
Mama masih asyik BerBBM<br />
Mengapa saat aku tidak bisa mengerjakan PR<br />
Mama selalu bilang coba dulu pikir sendiri, sambil mata melotot ke BB<br />
Mengapa saat aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mama selalu menyuruh mbak untuk membantunya, sambil tangan mama lincah menyentuh BB<br />
<span id="more-79"></span><br />
Aku dan adik sayang Papa<br />
Tetapi, maaf Pa</p>
<p>Mengapa saat mama minta tolong ambilkan pampers untuk adik. Papa selalu bilang ambil sendiri, sambil tertawa di depan layar BB</p>
<p>Mengapa saat aku mengajak main bola. Papa selalu bilang papa lagi capek, tapi tanpa lelah balas BBM</p>
<p>Mengapa papa sekarang jarang sekali menyanyikan lagu saat membobokkan adik. Tapi papa asyik terus pegang BB<br />
Mengapa papa sekarang jarang sekali baca cerita saat sebelum tidur. Tapi papa selalu pegang BB saat membobokkan aku</p>
<p>Aku dan adik sayang Papa Mama</p>
<p>Tapi, maaf pa ma<br />
Aku dan adik jadi benci BB, padahal papa mama menyayanginya<br />
Karena sejak ada BB, papa jarang cium aku<br />
Karena bila pegang BB, mama kalau ditanya PR selalu marah-marah<br />
Karena bila ada bunyi BB, papa selalu melepaskan gendongan adik<br />
Karena sejak ada BB, mama hanya bisa tertawa dengan BB<br />
Karena sejak kerajingan BB, papa jarang maen perang-perangan lagi denganku</p>
<p>Aku dan adik sayang Papa Mama<br />
Tapi, maaf pa ma<br />
Aku pernah ajak adik berdoa, semoga BB papa mama selalu low bat.<br />
Aku pernah ajak adik berdoa, mudah-mudah wajahku berubah jadi BB. Biar papa mama selalu pandangi aku terus</p>
<p>Aku pernah Ajak adik berdoa, supaya BB papa mama ketinggalan di kantor. Biar Aku dan adik bisa bersenang-senang seperti dulu lagi</p>
<p>Aku pernah ajak adik berdoa, supaya semua orang di rumah ini tidak beli BB kayak papa mama. Agar kalau papa mama mengacuhkan aku, aku bisa main dengan mereka</p>
<p>Papa dan Mama<br />
Maafin aku dan adik</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=79&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/10/06/mari-istirahatkan-bb-didepan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hi Mommy!</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/06/13/hi-mommy/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/06/13/hi-mommy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 03:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[health]]></category>
		<category><![CDATA[sto]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Hi Mommy! I am only 3/4 of an inch long, But I have all my organs. I love the sound of your voice. Every time I hear it, I wave my arms and legs. The sound of your heart beat Is my favorite lullaby. Month Two. Mommy, Today I learned how to suck my thumb. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=75&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi Mommy!<br />
I am only 3/4 of an inch long,<br />
But I have all my organs.<br />
I love the sound of your voice.<br />
Every time I hear it,<br />
I wave my arms and legs.<br />
The sound of your heart beat<br />
Is my favorite lullaby.</p>
<p><span id="more-75"></span></p>
<p>Month Two.</p>
<p>Mommy,<br />
Today I learned how to suck my thumb.<br />
If you could see me<br />
You could definitely tell that I am a baby.<br />
I’m not big enough to survive outside my home though.<br />
It is so nice and warm in here.</p>
<p>Month Three.</p>
<p>You know what Mommy,<br />
I’m a boy!<br />
I hope that makes you happy.<br />
I always want you to be happy.<br />
I don’t like it when you cry.<br />
You sound so sad.<br />
It makes me sad too,<br />
And I cry with you even though<br />
You can’t hear me.</p>
<p>Month Four.</p>
<p>Mommy,<br />
My hair is starting to grow.<br />
It is very short and fine<br />
But I will have a lot of it.<br />
I spend a lot of my time exercising.<br />
I can turn my head and curl my fingers and toes<br />
And stretch my arms and legs.<br />
I am becoming quite good at it too.</p>
<p>Month Five.</p>
<p>You went to the doctor today.<br />
Mommy, he lied to you.<br />
He said that I’m not a baby.<br />
I am a baby, Mommy, your baby.<br />
I think and feel.<br />
Mommy, what’s abortion?</p>
<p>Month Six.</p>
<p>I can hear that doctor again.<br />
I don’t like him.<br />
He seems cold and heartless.<br />
Something is intruding my home.<br />
The doctor called it a needle.<br />
Mommy what is it? It burns!<br />
Please make him stop!<br />
I can’t get away from it!<br />
Mommy! Help me!</p>
<p>Month Seven.</p>
<p>Mommy,<br />
I am okay.<br />
I am in God’s arms.<br />
He is holding me.<br />
He told me about abortion.<br />
Why didn’t you want me, Mommy?</p>
<p>Every abortion is just…</p>
<p>One more heart that was stopped.<br />
Two more eyes that will never see.<br />
Two more hands that will never touch.<br />
Two more legs that will never run.<br />
One more mouth that will never speak.</p>
<p>Stop Criminal Abortion!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=75&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/06/13/hi-mommy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>cara menghilangkan santet dgn ilmu fisika</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/02/22/cara-menghilangkan-santet-dgn-ilmu-fisika/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/02/22/cara-menghilangkan-santet-dgn-ilmu-fisika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 04:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Sebenernya Santet, teluh, sihir atau apapun namanya adalah energi negatif yang mampu merusak kehidupan seseorang : berupa terkena penyakit, kehancuran rumah tangga hingga sampai dengan kematian. Berbagai penyelidikan pun telah banyak dilakukan ilmuwan terhadap fenomena santet dan sejenisnya. Tentu metode penelitian para ilmuwan agak berbeda dengan agamawan. Jika para agamawan memakai rujukan dalil2 kitab suci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=71&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenernya Santet, teluh, sihir atau apapun namanya adalah energi negatif yang mampu merusak kehidupan seseorang : berupa terkena penyakit, kehancuran rumah tangga hingga sampai dengan kematian.</p>
<p>Berbagai penyelidikan pun telah banyak dilakukan ilmuwan terhadap fenomena santet dan sejenisnya. Tentu metode penelitian para ilmuwan agak berbeda dengan agamawan.<br />
Jika para agamawan memakai rujukan dalil2 kitab suci (ayat kitabiyah), maka para ilmuwan menggunakan ayat kauniyah (alam semesta) untuk menyelidiki santet ini. Penyelidikan menggunakan ayat kauniyah tentunya harus memiliki metode yang s ifa tnya ilmiah, mulai dari mencari kasus2 santet, tipe2 santet, gejala, akibat dlsb. Lalu kemudian dilakukan berbagai eksperimen untuk penyembuhannya. Salah satu kesimpulan/pendapat yang mengemuka adalah santet itu sebenarnya adalah energi. Kenapa dalam kasus santet bisa masuk paku, kalajengking, penggorengan dll bisa dijelaskan melalui proses materialisasi energi.<br />
<span id="more-71"></span></p>
<p>Nah, santet dan mahluk halus itu ternyata energi yang bermuatan (-). Bumipun ternyata memiliki muatan (-). Dalam hukum C Coulomb dikatakan bahwa muatan yang senama akan saling tolak menolak dan muatan yang tidak senama justru akan tarik menarik. Rumusnya :</p>
<p>F = K * ((Q1*Q2)/R^2)<br />
F = gaya tarik menarik<br />
K = Konstanta<br />
Q1, Q2 = muatan<br />
R = jarak</p>
<p>Nah karena demit alias mahluk halus dan bumi itu sama-sama bermuatan (-) makannya para demit itu tidaklah menyentuh bumi. Orang tua jaman dulu juga sering mengingatkan jika bicara dgn orang yg tidak dikenal pd malam hari maka lihatlah apakah kakinya menapak ke bumi atau tidak. Jika tidak maka ia berarti golongan mahluk halus.</p>
<p>Begitu juga dengan santet yang ternyata bermuatan (-) maka secara fisika bisa ditanggulangi atau ditangkal dengan hukum C Coulomb ini. Saya tidak membahas metode melawan santet dengan zikir karena sudah banyak dibahas tapi saya menawarkan alternatif lainnya yg bisa bersifat “standalone” (utk non muslim) maupun digabungkan dgn zikir (utk muslim).</p>
<p>Beberapa Metodenya :</p>
<p>Cara 1<br />
Tidurlah dilantai yang langsung menyentuh bumi. Boleh gunakan alas tidur asal tidak lebih dari 15 Cm. Dengan tidur dilantai maka santet kesulitan masuk karena terhalang muatan (-) dari bumi.</p>
<p>Cara 2<br />
Membuat alat elektronik yang mampu memancarkan gelombang bermuatan (-). Mahluk halus, jin, santet dll akan menjauh jika terkena getaran alat ini. Tapi Kelemahan alat ini tidak mampu mendeteksi mahluk baik dan jahat. Jadi, alat ini akan “menghajar” mahluk apa saja. Jika ada jin baik dan jin jahat maka keduanya akan “diusir” juga.</p>
<p>Cara 3<br />
Melakukan gerakan senam khusus dimana tapak kaki harus menyentuh bumi. Gerakan senam ini hanya punya satu gerakan inti saja jadi mudah sekali dilakukan oleh anak2 hingga orang tua. Selain utk penyembuhan berbagai penyakit medis yg sulit sembuh, senam ini cukup banyak menyelesaikan kasus santet juga. Ini murni senam, tanpa mantra atau pernafasan khusus.</p>
<p>Cara 4<br />
Menanam pohon atau tanaman yang memiliki muatan (-). Bagi yang peka spiritual, aura tanaman ini adalah terasa “dingin”. Pohon yang memiliki muatan (-) diantaranya : dadap, pacar air, kelor, bambu kuning dll. Tanaman sejenis ini paling tidak disukai mahluk halus. Biasanya tanaman bermuatan (-) ini tidaklah mencengkram terlalu kuat di tanah (bumi) dibandingkan dengan tanaman bermuatan (+)</p>
<p>Lain halnya dengan pohon yang memiliki muatan (+) seperti pohon asem, beringin, belimbing, kemuning, alas randu dll maka phohon sejenis ini tentu akan menarik mahluk halus dan seringkali dijadikan tempat tinggal. Hal ini dikarenakan ada gaya tarik menarik antara pohon (+) dan mahluk halus (-) sesuai hukum C Coulomb.</p>
<p>selamat mencoba bila sakit masih berlanjut hubungi dukun2 ato pakiayi segera</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=71&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/02/22/cara-menghilangkan-santet-dgn-ilmu-fisika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Tuhan menciptakan kejahatan</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/01/01/aaronspark-sedang-di-jalan-yg-benar-apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/01/01/aaronspark-sedang-di-jalan-yg-benar-apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 04:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, &#8220;Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?&#8221; Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, &#8220;Betul, Dia yang menciptakan semuanya.&#8221; &#8220;Tuhan menciptakan semuanya?&#8221; Tanya professor sekali lagi. &#8220;Ya, Pak, semuanya&#8221; kata mahasiswa tersebut. Profesor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=67&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<hr size="1" /><!-- / icon and title --> <!-- message -->Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, &#8220;Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?&#8221; Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, &#8220;Betul, Dia yang menciptakan semuanya.&#8221;</p>
<div id="post_message_114759838"><span id="more-67"></span><br />
&#8220;Tuhan menciptakan semuanya?&#8221; Tanya professor sekali lagi.</p>
<p>&#8220;Ya, Pak, semuanya&#8221; kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, &#8220;Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.&#8221;</p>
<p>Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,</p>
<p>&#8220;Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?&#8221;"Tentu saja,&#8221; jawab si Profesor</p>
<p>Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, &#8220;Profesor, apakah dingin itu ada?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?&#8221; Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.</p>
<p>Mahasiswa itu menjawab, &#8220;Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.</p>
<p>Mahasiswa itu melanjutkan, &#8220;Profesor, apakah gelap itu ada?&#8221;</p>
<p>Profesor itu menjawab, &#8220;Tentu saja itu ada.&#8221;</p>
<p>Mahasiswa itu menjawab, &#8220;Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.&#8221;</p>
<p>Akhirnya mahasiswa itu bertanya, &#8220;Profesor, apakah kejahatan itu ada?&#8221;</p>
<p>Dengan bimbang professor itu menjawab, &#8220;Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara &#8211; perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.&#8221;</p>
<p>Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,</p>
<p>&#8220;Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih sayang Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.&#8221;</p>
<p>Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=67&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/01/01/aaronspark-sedang-di-jalan-yg-benar-apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbagi Cinta</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/01/01/berbagi-cinta/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/01/01/berbagi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 02:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya? Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materialistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari Ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=63&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya? Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materialistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari Ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.</p>
<p>Setiap tahun, Ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.<br />
<span id="more-63"></span><br />
Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, Ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina. “Nina, apa yang anakku mau, sayang?” begitu Ayah saya membuka percakapan. “Nina mau baju baru? Sepatu baru? Tas baru? Atau apa, nak?&#8221; tambah Ayah saya. “Nggak ah, ntar om marah” jawab Nina. “Nggak sayang, om tidak akan marah” Ayah saya menimpali. “Nggak ah… ntar om marah” Nina mengulang jawabannya.</p>
<p>Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, “Ayo nak, katakan apa yang kamu minta, sayang…” “Tapi janji ya, om tidak marah” jawab Nina manja. “Om janji tidak akan marah sayang” tegas Ayah saya. “Bener om tidak akan marah?” sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah Nina menatap tajam wajah Ayah saya. Sementara Ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. “Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah?” pikir Ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan “Ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah, nak.”</p>
<p>Dengan terus menatap wajah Ayah saya, Nina berkata; “Bener ya om tidak marah.” Sekali lagi Ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya “Om, boleh nggak saya memanggil Ayah?” Mendengar jawaban itu, tak kuasa Ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan ” Tentu, anakku… tentu, anakku…Mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan om” Sambil memeluk erat Ayah saya, dengan terisak Nina berkata “Terima kasih, Ayah… terima kasih, Ayah…&#8221;</p>
<p>Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat Ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, Ayah saya berkata kepada Nina “Anakku, sebelum lebaran nanti Ayah akan datang lagi kemari bersama Ibu, apa yang kamu minta nak?” “Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah”sergah Nina.</p>
<p>“Nina masih boleh minta lagi sama Ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan Ayah kasih.” Sambil memegang tangan Ayah saya, Nina memohon “Nanti kalau Ayah datang sama Ibu ke sini, saya minta Ayah bawa foto bareng Ayah, Ibu dan kakak-kakak. Boleh khan, Ayah?”</p>
<p>Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; “Buat apa foto itu, nak?” Tanpa ragu Nina menjawab “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto Ayah Nina, ini Ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.</p>
<p>Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan Anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=63&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2010/01/01/berbagi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidup untuk memberi</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/hidup-untuk-memberi/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/hidup-untuk-memberi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 14:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta. Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=60&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.</p>
<p>Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut,ia menyapa akrab setiap orang, dari tukang koran, penyapu jalan, tuna wisma sampai pak polisi.</p>
<p><span id="more-60"></span></p>
<p>Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya. Apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…?? Untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai diseberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.</p>
<p>“De, boleh kakak bertanya?”<br />
“Silahkan kak.”<br />
“Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa?“<br />
“Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak?“ Dengan sedikit heran ia balik bertanya.<br />
“Oh.. tidak. Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?”</p>
<p>Lalu adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu, aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih, namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.”</p>
<p>“Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.”</p>
<p>Yang ibu ku selalu katakan “Hidup harus berarti buat banyak orang“, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan Baik kita. Kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda.</p>
<p>Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta. Apa yang kita bawa?</p>
<p>Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya, dibandingkan adik kecil ini.</p>
<p>Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Ya.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu.</p>
<p>Hanya Kasih yang sempurna serta Iman kepada Mu lah yang dapat mengiringiku masuk ke Surga. Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku, yang menyadarkan aku dari tidur nyenyak ku.</p>
<p>(Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran)</p>
<p>Lakukanlah perkara-perkara kecil, dengan membagikan cerita ini kepada semua orang, semoga hasil yang didapat dari hal yang kecil ini berdampak besar buat banyak orang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=60&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/hidup-untuk-memberi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Batu&#8221; Dalam Kehidupan</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/batu-dalam-kehidupan/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/batu-dalam-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 14:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/batu-dalam-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=59&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.</p>
<p>Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah&#8230;, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. Cittt&#8230;. ditekannya rem mobil kuat-kuat.<br />
<span id="more-59"></span><br />
Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Ditariknya seorang anak yang paling dekat, dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.</p>
<p>&#8220;Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!! Lihat goresan itu&#8221;, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.</p>
<p>&#8220;Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores,&#8221; ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.</p>
<p>Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf.</p>
<p>&#8220;Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.&#8221; Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. &#8220;Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.</p>
<p>&#8220;Itu di sana, ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..&#8221;</p>
<p>Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. &#8220;Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.&#8221;</p>
<p>Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, diangkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. &#8220;Terima kasih, dan semoga Tuhan membalas perbuatanmu. &#8220;Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka.</p>
<p>Mata pengusaha itu terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.</p>
<p>Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: &#8220;Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=59&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/batu-dalam-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seorang Nenek dan Seliter Minyak Goreng</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/seorang-nenek-dan-seliter-minyak-goreng/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/seorang-nenek-dan-seliter-minyak-goreng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 14:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA. Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=56&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA. Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai, berkelok-kelok.</p>
<p>Hmm&#8230;dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kuliah, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.<br />
<span id="more-56"></span><br />
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu.</p>
<p>Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya. Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.</p>
<p>Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali.</p>
<p>Saya teringat pada Ibu. Tuhan memang Maha Bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya. Sudah beberapa saat sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kuliah. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.</p>
<p>Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya. Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.</p>
<p>Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai penghargaan buatnya. Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih, Nek.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=56&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/seorang-nenek-dan-seliter-minyak-goreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah sang kondektur wanita</title>
		<link>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/kisah-sang-kondektur-wanita/</link>
		<comments>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/kisah-sang-kondektur-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 13:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoyoindrajaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivation]]></category>
		<category><![CDATA[jokes]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/kisah-sang-kondektur-wanita/</guid>
		<description><![CDATA[Ayo…. Ayo …. Ancol, Sunter Podomoro, Priok…. Ancol, Sunter Podomoro, Priok…. Tunggu….!!! Tunggu….!!! Ada sewa! Ayo…ayo naik…. Tarik! Begitulah, kondektur wanita itu berteriak lantang menawarkan busnya. Tak kenal lelah, panas, hujan, terik, semuanya dilaluinya tanpa merasa terbebani. Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=54&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayo…. Ayo ….</p>
<p>Ancol, Sunter Podomoro, Priok…. Ancol, Sunter Podomoro, Priok….</p>
<p>Tunggu….!!! Tunggu….!!! Ada sewa! Ayo…ayo naik…. Tarik!</p>
<p>Begitulah, kondektur wanita itu berteriak lantang menawarkan busnya. Tak kenal lelah, panas, hujan, terik, semuanya dilaluinya tanpa merasa terbebani.  Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking di tengah deru kendaraan. Yang membuat Anna tertarik untuk memperhatikannya adalah semata-mata karena ia seorang wanita yang bekerja sebagai kondektur.</p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p>Sebuah profesi yang masih sedikit langka dan sulit dilakukan oleh kaum hawa.  Entah mengapa Anna begitu tertarik memperhatikan gerak-geriknya. Lincah, gesit, spontan dan sangat percaya diri  Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh.</p>
<p>Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.  Hingga suatu ketika penumpang yang duduk di kursi belakang berteriak “Pir, kondekturnya ketinggalan, tuh! Kasihan!! Lumayan jauh. ”  Kami, penumpang yang ada di dalam bus, semua tertawa geli mendengar ucapan itu.</p>
<p>Supir buru-buru menghentikan bus, menepi dan menunggu kondektur wanita yang ketinggalan. Cukup lama bus menunggu, kira-kira hampir sepuluh menit-an.  Tiba-tiba dari arah belakang bus, sebuah bajaj meluncur kencang dan berhenti persis di depan bus. Dari dalam Bajaj keluarlah sang wanita yang menjadi kondektur tadi, dengan wajah panik dan ketakutan. Ia segera menghampiri supir bus dan menangis sejadi-jadinya. Sambil mennguncang-guncangkan tubuh sang supir.  “Kamu jahat, jahat sekali! Tinggalin begitu aja! Tau nggak, saya takut, saya panik waktu tahu bus sudah nggak ada. Padahal saya kan lagi bantu nyeberangin penumpang. Apa kamu nggak lihat, gimana sih kamu jadi supir nggak peduli amat?” Kalimat-kalimat itu terus meluncur dari bibir tipis si wanita.  Sudahlah, ma….! Maafkan saya, saya nggak lihat kalau kamu ada di seberang. Ya udah nggak usah nangis, malu dilihat orang. ” ujar sang supir.</p>
<p>Dari dialog mereka, Anna dan penumpang lain baru mengetahui bahwa ternyata supir dan kondektur itu adalah pasangan suami isteri. Seorang penumpang yang duduk paling depan dekat supir segera menjadi penengah pertengkaran tersebut.  “Sudah-sudah tidak usah diperpanjang, maafkan saja Bapak, dia mungkin khilaf tidak melihat. ” lerai bapak itu pada si kondektur wanita. “Ibu juga nggak usah dendam, sama-sama cari uang sama-sama kerja untuk anak, pasti ada susah senangnya. ”  “Pak supir juga harus peduli sama isteri jangan cuek, harus lihat keadaan sekitar, jangan main tancap gas aja!” ujar si bapak tadi menasehati supir. Akhirnya pertengkaran pun berakhir, mereka saling bersalaman dan berpelukan. Kami semua para penumpang segera bertepuk tangan dan terharu melihat sikap mereka.</p>
<p>Dalam hati Anna merasa bahwa mereka benar-benar pasangan yang cukup kompak, bahu membahu dalam mencari nafkah untuk keluarga dan mudah memaafkan satu sama lain, mau mengerti keadaan masing-masing dan tidak pantang menyerah.  Satu lagi pelajaran hidup yang bisa dipetik oleh Anna sebagai calon ibu muda adalah bahwa siapa pun dirinya, kelak jika ia telah menikah nanti ia harus bisa bersikap tenggang rasa, tolong menolong dan saling memahami dalam setiap situasi apa pun. Jangan pernah sombong, egois dan merasa lebih tinggi dari pasangannya. Segala upaya untuk menafkahi keluarga harus dilakukan dengan kerja keras, pantang menyerah, disiplin dan ikhlas. Itu kunci utamanya., bisik Anna dalam hati.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yoyoindrajaya.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yoyoindrajaya.wordpress.com&amp;blog=10406449&amp;post=54&amp;subd=yoyoindrajaya&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yoyoindrajaya.wordpress.com/2009/12/31/kisah-sang-kondektur-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fdbbb14fb1a12ae434e3c8b0e7b4351?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoyoindrajaya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
